Gabung Sekarang Juga Bersama NATION4D.ME TOGEL DAN CASINO ONLINE TERBAIK

Selamat Datang Bersama Nation4D.Me Situs Togel & Casino Terpercaya. Dengan menyediakan Banyak Event dan Pelayanan Terbaik ^_^. Dengan Respon Cepat Staff Nation4D Kami 24 Jam Nonstop ^_^. Langsung hubungi kami Via Live Chat Atau BBM 2B30FEF9 & WA +855 9384 1740. Terima Kasih

Gabung Sekarang Juga Bersama NATION4D.ME TOGEL DAN CASINO ONLINE TERBAIK

Selamat Datang Bersama Nation4D.Me Situs Togel & Casino Terpercaya. Dengan menyediakan Banyak Event dan Pelayanan Terbaik ^_^. Dengan Respon Cepat Staff Nation4D Kami 24 Jam Nonstop ^_^. Langsung hubungi kami Via Live Chat Atau BBM 2B30FEF9 & WA +855 9384 1740. Terima Kasih

Gabung Sekarang Juga Bersama NATION4D.ME TOGEL DAN CASINO ONLINE TERBAIK

Selamat Datang Bersama Nation4D.Me Situs Togel & Casino Terpercaya. Dengan menyediakan Banyak Event dan Pelayanan Terbaik ^_^. Dengan Respon Cepat Staff Nation4D Kami 24 Jam Nonstop ^_^. Langsung hubungi kami Via Live Chat Atau BBM 2B30FEF9 & WA +855 9384 1740. Terima Kasih

Gabung Sekarang Juga Bersama NATION4D.ME TOGEL DAN CASINO ONLINE TERBAIK

Selamat Datang Bersama Nation4D.Me Situs Togel & Casino Terpercaya. Dengan menyediakan Banyak Event dan Pelayanan Terbaik ^_^. Dengan Respon Cepat Staff Nation4D Kami 24 Jam Nonstop ^_^. Langsung hubungi kami Via Live Chat Atau BBM 2B30FEF9 & WA +855 9384 1740. Terima Kasih

Gabung Sekarang Juga Bersama NATION4D.ME TOGEL DAN CASINO ONLINE TERBAIK

Selamat Datang Bersama Nation4D.Me Situs Togel & Casino Terpercaya. Dengan menyediakan Banyak Event dan Pelayanan Terbaik ^_^. Dengan Respon Cepat Staff Nation4D Kami 24 Jam Nonstop ^_^. Langsung hubungi kami Via Live Chat Atau BBM 2B30FEF9 & WA +855 9384 1740. Terima Kasih

Powered By Blogger

Senin, 25 Februari 2019

Sedikit puisi Aksara Pembunuh Atma "Aku hanyalah pemenggal aksara..."

Related image



Aku hanyalah pemenggal aksara
Di awang-awang fatamorgana ragaku bertahta
Jariku menggenggam pena emas raksasa
Lagi, aksaraku mampu menyibak guram dirgantara

Tidakkah mereka tahu saat ufuk menepi?
Aku adalah penebas panjatan doa-doa mereka pada Ilahi
Untaian baitku membual mereka agar berdelusi
Lagi, abjadku mampu menyela mereka dalam rohani

Namun, akankah angkara bila terlalu congkak?
Aku termasuk mereka tanpa disadari
Aksaraku tak henti terukir hingga jemariku membengkak
Aku, adalah penjerumus diriku dalam ciptaan ilusi

Aku adalah pelambung khayal tanpa melihat pijakan
Berkisah riang pada mayapada yang tengah bersedu
Egoku menjerat tengkar yang tak sepadan
Lagi, aksaraku hanyalah pembunuh atma diriku yang bisu...

Relisasi Melupakan "Melupakan kamu ternyata tak mudah ya"

[PUISI] Relisasi Melupakan

Selamat malam

Hanya ingin bercerita
Tentang kamu yang dulu bagai sabtu di setiap pekanku
Selalu ku tunggu, karena bersamamu hilang lelah jiwaku

Tugas melupakanmu nampaknya belum juga terealisasi
Ternyata tak mudah ya

Melupakan kamu sang ahli pemain rasa
Ahli merebut hati, mengoyak logika

Namun aku lupa
Ternyata kau juga ahli menggores pedih, menoreh luka
Ya, kamu memang ahlinya

Pergi tanpa aku tahu, mendera sepi bersama pilu
Kau buat aku seperti tak lagi aku

Jack Ma Putuskan Pensiun




Fakta Unik - Pendiri sekaligus Chairman of the Board Alibaba Group, Jack Ma menyatakan pensiun dari bisnis yang telah Ia geluti selama ini tersebut. Menariknya, keputusan itu bertepatan dengan ulang tahunnya sendiri yang juga ulang tahun Alibaba. 

Tepat berusia 54 tahun, dan ulang tahun Alibaba yang ke-19, Jack Ma digantikan oleh Daniel Zhang yang resmi ditunjuk sebagai Chairman of the Board Alibaba Group. 

"Sejak dibangun pada tahun 1999, kami telah melihat bahwa masa depan Alibaba akan lebih bergantung pada 'kumpulan orang-orang berbakat' untuk memungkinkan kami meneruskan rencana suksesi manajemen," kata Jack Ma melalui surat perpisahannya.

Disampaikan Jack Ma, kerja keras timnya selama bertahun-tahun telah membuat Alibaba sebagai pusat orang-orang berbakat di dunia, baik secara kualitas maupun kuantitas.

"Guru di dalam diri saya sangat bangga dengan pencapaian tim kita, kepemimpinan kita, dan kultur unik yang mendorong misi perusahaan, serta bagaimana kita dapat terus melahirkan pemimpin-pemimpin hebat dan profesional seperti Daniel Zhang."

Minggu, 24 Februari 2019

Sedikit Puisi "Pada yang Redup"


Image result for images about Candle
Aku melihatnya

Rindu yang dingin
Senyum yang beku
Peluk yang kosong

Kamu berada di sana
Menatap nyala lilin yang ditiup angin sepoi

Kemudian menyadari satu hal
Kamu adalah aku



Jakarta, Februari 2019

Sabtu, 23 Februari 2019

Sedikit Puisi Untuk Memaknai Kepergian

Image result for Images about Memaknai Kepergian



Masih ingatkah,
Kapan terakhir kali kamu memaksa mereka untuk menjawab pertanyaanmu?
Berusaha meyakinkanmu bahwa setiap kejadian selalu memiliki alasan?
Kamu mungkin akan sering berargumen tentang pertanyaan yang sama?
Kenapa? Kenapa? Dan Kenapa?

Sama halnya dengan kejadian yang tak pernah kamu duga dalam hidupmu
Kamu pikir semua akan selalu baik-baik saja
Sesuai kehendak dan keinginan yang kamu tanam sejak lama
Pikirmu kamu tak pernah akan kecewa bahkan terluka
Selalu ada yang membuatmu yakin bahwa kamu bisa dapatkan segalanya

Tapi nyatanya tidak,
Ada kalanya kamu akan jatuh dan mencoba menerka setiap asa
Setiap kehadiran dan kepergian yang membuatmu kadang terluka
Kematian, dicampakkan bahkan sekedar tidak diakui kamu ada
Itulah lukamu.....

Kamu tak harus mencari jawaban dari pertanyaan "kenapa"
Hanya perlu memahami,
Bahkan semua yang ada dalam hidup tak selamanya harus beralasan
Kamu hanya harus meyakinkan dirimu sendiri,
Bahwa kamupun manusia biasa
Bisa terluka bahkan bisa kecewa


< Setidaknya dalam hidup,
Perlu rasanya kamu mencoba bagaimana sakitnya ditinggal pergi
Menangis, berteriak hingga mungkin tak sadarkan diri dalam waktu yang lama

Wajar rasanya kamu tidak yakin jika ini giliranmu
Lumrah sekali saat kamu menolak kenyataan bahwa kamu telah kehilangan
Tentu bukan karena kamu tidak bisa menerima
Kamu hanya butuh waktu meyakinkan diri bahwa inilah giliranmu


Hidup bukan tentang apa yang selalu kamu inginkan, lalu kemudian kamu dapatkan
Hidup bukan lagi tentang ambisi ingin selalu memilikiTapi ini saatnya kamu tahu, bahwa hidup bukan hanya sekedar menjawab pertanyaan, kenapa?

Tak semua harus memiliki alasan, termasuk kehadiran dan juga kepergian

Sedikit Cerita Menanti Pelukan

Image result for Images about

























Tangannya yang gemetar susah payah bergerak untuk meraih jemariku dan menggenggamnya. Dingin sekaligus hangat menjalari tanganku. Ada kerinduan teramat yang aku rasakan dari genggamannya, tapi aku bergeming. Tak ada reaksi apa pun dariku. Aku memang merindukannya. Sangat. Namun, apa yang dilakukannya belasan tahun lalu membuatku merasa jijik tiap kali sadar kalau aku menyimpan rindu untuknya.

Aku tidak tahu kapan tepatnya benih kebencian ini muncul dalam diriku. Barangkali sejak pertama kali aku mendengar suara wanita lain menyapanya dengan panggilan tak biasa di seberang telepon. Saat itu, ketika sadar aku masih mengenakan seragam putih biruku di hadapannya, matanya menelisikku. “Mil—?”

Pertanyaannya terpotong oleh gelagatku yang balik menelisik, tapi bukan menelisik dirinya, melainkan menelisik setiap sudut ruangannya. Aku memang sengaja mampir ke kantornya selepas sekolah hanya demi memastikan siapa pemilik suara yang kudengar ketika menelponnya tadi pagi.

Setelah beberapa saat tak kutemukan siapa pun di sana, aku baru bisa merasa lega. Namun, rupanya rasa lega itu pun tak mampu bertahan barang sedetak jantung pun karena tepat saat itu, seorang wanita masuk begitu saja, menahan langkahnya di mulut pintu begitu mendapatiku. Jemarinya masih bertaut di gagang pintu. Wanita cantik dengan pakaian kerja dan make up sederhana, tapi membuatnya terlihat lebih seksi dan anggun.

Sebentar ia menatapku, memperhatikanku dari atas hingga bawah, kemudian kembali lagi ke atas, kemudian tersenyum.

Aku melengos, meminta penjelasan pada lelaki di hadapanku—lelaki yang sama dengan yang kini terbaring lemah di sisiku—siapa sebenarnya wanita itu.


Tak ada penjelasan apa pun yang keluar dari mulutnya. Ia hanya memandangku sekilas, lalu mengenalkan wanita itu dengan nama Rosna.

Tiga bulan berikutnya Mama dan lelaki itu resmi bercerai. Aku tidak mengerti mengapa Mama menerima begitu saja keputusan lelaki itu untuk menceraikannya. Mama tidak menuntut apa pun darinya selain hak asuhku. Yang lebih tak aku mengerti lagi, Mama melarangku untuk membencinya. Aku katakan padanya aku tak bisa berjanji soal itu, tapi Mama memaksa. Akhirnya aku terpaksa berjanji, hanya untuk membuatnya sedikit tenang.

“M, Mil….” Aku tersentak keluar dari ingatan belasan tahun lalu tadi, kemudian kebencian semakin meringkus diriku ketika tiba-tiba saja suaranya menelusup ke telingaku. Suara yang parau dan gemetar.

Sepertinya ia ingin megatakan sesuatu, tapi kondisinya terlalu lemah untuk melakukannya. Aku tidak tertarik untuk mengetahui apa sebenarnya yang ingin dikatakannya. Permintaan maaf? Menanyakan keadaanku? Apa pun, aku tidak tertarik untuk mengetahuinya.

Satu-satunya alasanku mau menjenguknya saat ini adalah karena Rosna mau merendahkan diri datang ke Kedai Sup Durian tempatku bekerja dan terus memohon agar, paling tidak, sekali saja, aku mau menemui lelaki yang kini terbaring tak berdaya di sisiku sebelum hidupnya berakhir karena dokter memperkirakan hidupnya hanya tinggal menunggu hari. Tak ada lagi yang bisa dilakukan dokter-dokter itu untuk menyelamatkan hidupnya.

Aku masih muak, bahkan untuk sekadar mendengar suaranya. Aku mengabaikannya, berusaha membuang perhatianku pada semangkuk bubur yang dari awal kedatanganku sudah tersedia di meja, di sisi ranjang. Bubur yang kelihatannya belum disentuh sama sekali. Bubur yang kemudian kembali merenggutku pada momen sepuluh tahun lalu.

Hari itu Mama memasak banyak makanan. Aku tidak ingat ada perayaan apa sampai Mama mengatakannya. Dengan santai Mama bilang kalau hari itu adalah hari ulang tahun pernikahannya yang keempat belas. Mama mengatakannya dengan sedikit senyum dan sedikit air mata yang menggenang di matanya. Kemudian ia bercerita soal betapa senangnya lelaki yang kini terbaring di sisiku ini ketika Mama melahirkan aku. Mama terlihat bahagia sekaligus juga terlihat sedih. Dan, lagi-lagi Mama berpesan agar aku tak membencinya.

Kurasakan tangannya lebih erat menggegam tanganku. Aku menolaknya. Kupaksa genggamannya untuk lepas dari tanganku. Pelan, dan kuperhatikan kelopak mata yang membungkus penuh kedua bola matanya sedikit bergerak-gerak. Kemudian aku meninggalkannya setelah aku memastikan ia tertidur.

                                                                    *

Kedai Sup Durian baru saja dibuka. Aku dan beberapa pegawai lain masih sibuk membersihkan meja-meja dan kursi-kursinya dari debu ketika kulihat seorang wanita dengan setelan kaus kesual v-neck cokelat dipadu kardigan dan rok sepan selutut berwarna senada berdiri celingak-celinguk di ambang pintu. Make up sederhana yang memoles wajahnya membuatnya masih tampak seperti wanita usia awal empat puluhan meski usia sebenarnya sudah lebih dari lima puluh tahun. Matanya menelanjangi Kedai Sup Durian yang luasnya tak seberapa ini.

“Mil, ada yang nyari tuh!” Kudengar Lena memanggilku. Aku tahu, tanpa diberitahu pun aku tahu ia kemari pasti untuk mencariku.

Sepuluh menit berikutnya, aku dan dia sudah duduk berhadapan di sebuah meja yang letaknya di pojok kanan, persis dekat jendela, menghadap jalan raya. Di hadapannya sudah tersedia secangkir kopi dan sepiring salad durian. Sementara aku memilih untuk tidak memesan apa pun.


“Bagaimana keadaannya? Ada perkembangan?” Aku memulai percakapan duluan karena dia masih sibuk mengaduk kopinya, menambahkan satu block gula ke dalamnya, dan mengaduknya lagi.

Dia menggeleng. “Kondisinya makin memburuk.”

Aku melempar pandangan ke luar jendela. Lalu lintas mulai padat di luar sana. Langit di atasnya mulai dikepung awan kelam.

“Jenguklah dia sekali lagi,” pintanya sebelum membiarkan bibir cangkir bersentuhan dengan bibir tipisnya.

Aku tak menanggapinya.


“Kau masih membencinya?”

Aku masih tak menanggapinya.


“Dia papamu.” Dia meletakkan cangkir kopinya, menghela napas. “Aku punya firasat kalau sebentar lagi dia akan meninggalkan kita selama-lamanya.” Tangannya meraih garpu dari piring salad duriannya.

“Itu yang dikatakan dokter. Seperti yang kau bilang kemarin.”

“Maksudku, dalam waktu beberapa jam lagi.”




“Kau bukan Tuhan.” Aku mulai jengah berhadapan dengannya. Dari jendela di dekat meja kami, aku mendapati gerimis mulai menampakkan diri di luar. Kilat berjatuhan, menimpa para pengendara, para pejalan kaki, para pedagang kaki lima, juga pengamen dan pengemis yang masih saja bertahan di sisi rambu lalu lintas.

“Jenguklah dia. Beri dia pelukan. Kemarin kau sama sekali tak memberinya pelukan, kan? Bee tak pantas kau perlakukan seperti ini.” Suaranya tanpa emosi. Aku benar-benar tak bisa menebak apa yang berkecamuk dalam benaknya saat ini.

“Aku tak punya alasan untuk memeluknya. Lagi pula, kenapa aku harus menuruti permintaan wanita yang sudah jelas-jelas merenggutnya dariku dan Mama?”

“Merenggut Bee dari kalian?” Dia terkekeh. “Ah, tentu. Tentu mamamu tak akan bercerita soal apa yang terjadi sebenarnya.” Dia menyuapkan salad durian ke mulutnya.

Mendengar Mama disebut, aku sedikit mendelik ke arahnya. Jika saja aku tak ingat kalau ini masih jam kerjaku, aku sudah menyiram wajahnya dengan kopi panas di cangkirnya itu.

“Bukan aku yang merenggut Bee dari kalian, tapi kalianlah yang merenggut Bee dariku,” lanjutnya, kemudian cerita meluncur dari mulutnya.

Dia bilang, sebenarnya dia dan lelaki itu sudah menjalin hubungan sejak mereka masih di bangku kuliah. Keduanya saling mencintai. Mereka sudah merencanakan ingin melanjutkan hubungannya ke jenjang pernikahan ketika lelaki itu tiba-tiba saja dijodohkan dengan Mama.

Hubungannya sempat putus ketika itu, kemudian lelaki itu pun terpaksa menikah dengan Mama, wanita yang menjadi pilihan kedua orang tuanya. Kemudian lahirlah aku. Penyakit Mama mempertemukan kembali dirinya dengan lelaki itu. Mama yang ketika itu membutuhkan donor jantung memungkinkan dia memiliki kesempatan untuk merebut kembali cinta yang pernah keduanya miliki. Dia menjanjikan jantung ayahnya—yang saat itu sekarat dan setuju untuk mendonorkan jantungnya—untuk Mama, dengan syarat, lelaki itu mau kembali kepadanya.


“Lalu dia menyanggupinya?”

Dia mengangguk dan kembali menyuapkan salad durian ke mulutnya.

“Awalnya, aku pikir Bee menyanggupi kesepakatan itu karena dia masih mencintaiku. Ternyata aku salah.” Dia tertawa getir. “Bee melakukannya demi menyelamatkan hidup mamamu. Hanya nyawa mamamu yang ada di pikirannya saat itu. Juga kau. Ia begitu menyayangi kalian sampai-sampai aku nyaris putus asa.”

Aku tertegun. Aku tidak bisa begitu saja memercayai ceritanya, tapi setengah hatiku bilang kalau apa yang dikatakannya benar. Aku mendapati matanya berkaca-kaca, tapi aku masih tak dapat menangkap emosi apa pun dari wajahnya.

“Belasan tahun aku berusaha membuatnya bisa melupakan kalian, ternyata sia-sia. Tubuhnya ada bersamaku, tapi hati dan pikirannya sudah tak bisa kumiliki. Jiwanya selalu ada bersama kalian.” Dia melempar pandangannya ke luar jendela. Kemacetan di jalan raya sudah sedikit terurai. “Mamamu tahu soal ini.”

“Karena itu Mama menerima begitu saja ketika dia mengajukan surat permohonan cerai?”

Dia mengangguk. “Dan dia setuju ketika Bee memintanya untuk merahasiakan ini semua darimu. Meski itu menyakitkan baginya.”

Gerimis di luar sudah menjelma hujan sejak tadi, tapi di sini, di kedalaman hatiku, gerimis baru mulai mengetuk-ngetuk. Pesan Mama agar aku tak sampai membenci lelaki itu kembali menyundul-nyundul kepalaku.

Hening sesaat di meja kami. Namun, di meja lain, pengunjung Kedai Sup Durian mulai memenuhinya. Rupanya hujan tak menyurutkan selera mereka untuk menyantap sesuatu yang dingin.

“Belasan tahun Bee berusaha membuatmu tak membencinya lagi, tapi selalu gagal. Setiap kali dia mencoba dan gagal, dia selalu merutuki dirinya. Dia bilang, dia merindukan pelukanmu. Dia rela menukar segalanya demi membuatmu kembali berlari ke pelukannya seperti ketika kau kecil dulu.”


Dia kembali menyesap kopinya.

Beberapa detik berikutnya, sebuah telepon merampas percakapan kami. Dia menerima teleponnya.


Wajahnya memerah. Aku bisa membaca emosinya sekarang. Dia tengah mati-matian menahan tangis.

“Firasatku meleset,” katanya, setelah mengakhiri telepon.

Guntur menyambar. Jendela di dekat meja kami bergetar. Aku menunggu dengan hati terikat cemas.

“Bee meninggalkan kita lebih cepat dari yang kuperkirakan.”

Tepat saat dia berkata seperti itu, aku dikejutkan oleh suara ringtone ponselku. Sebuah pesan masuk kuterima. Dari Mama.

    Mama dengar papamu sakit. Sore ini kita jenguk dia ya. :)

Gerimis menderas di mataku. Aku tak bisa mencegahnya.[]

Kenapa Kita Bermimpi?

Tiap kita tidur, dan kita ingin terlarut dalam keindahan mimpi itu…
Mimpi yang indah… menyenangkan membuat kita ingin tetep rebahan diatas kasur, dan ingin terlarut dalam keindahan mimpi itu. Namun, pernahkah kita terpikir, mengapa kita bisa bermimpi? Kenapa mimpi manusia bisa menyenangkan, sedih, atau basah? Tapi, langsung saja ke pertanyaan awal, kenapa kita, sebagai manusia, suka bermimpi? Dan kenapa kita sulit untuk mengingatnya?







Mengapa kita Bermimpi?

Teori tentang mengapa kita bisa bermimpi, terkenalnya dikemukakan oleh Sigmund Freud….

Sebelum menjelaskan bagaimana mimpi itu bisa terjadi, alangkah baiknya kita mengenal dulu apa itu mimpi. Pendeknya, mimpi itu proses halusinasi pada tahapan tidur, yang namanya REM, atau rapid eye movement. Proses ini mencerminkan apa saja yang sudah kita alami di siang hari. Ada satu teori terkenal yang dikemukakan oleh om Sigmund Freud pada tahun 1899. Dimana, ia menyatakan bahwa mimpi kita itu adalah harapan-harapan yang dipendam dari diri kita. Termasuk didalamnya kaya mimpiin si pacar kita, rumah idaman kita dan amarah terpendam kita sama orang lain. Dan mimpi, pendeknya menurut Freud, adalah cerminan dari harapan-harapan kita yang belum bisa terwujudkan.

Tahun 1950-an, peneliti mulai menemukan mengapa manusia bisa bermimpi

Tapi kemudian baru pada tahun 1950-an, ketika teknologi canggih mulai berkembang. Para peneliti pendeknya menemukan, bahwa mimpi ternyata adalah efek samping dari proses otak kita, yang sedang merajut memori. Singkatnya, ketika kita tidur, ternyata otak sedang merajut kejadian-kejadian dalam hidup kita yang terjadi dalam sehari, menjadi sebuah memori baru di otak kita. Mimpi itu sendiri adalah rangkaian-rangkaian memori yang dalam tanda kutip, bocor, ke bagian otak kita yang menyadarinya. Dan itu terjadi secara natural di alam bawah sadar kita. Akibatnya, seringkali mimpi kita itu jadi ngga masuk akal dan… aneh!

Lalu, pertanyaan selanjutnya, kenapa mimpi kita itu sangat sulit untuk diingat?

Mengingat Mimpi itu Sulit

 Saat kita terbangun, kita bakalan sulit mengingat mimpi apa yang barusan terjadi… karena disimpen di memori jangka pendek

 Itu terjadi karena pada saat kita bermimpi, memori jangka pendek kita terpisah dengan memori jangka panjang kita. Dan yang menangkap mimpi kita tersebut, hanya lah bagian memori pendek kita. Itu sebabnya, kenapa kita bisa mengingat sedikit mimpi kita saat kita bangun, tapi kita ngga bisa inget semuanya.
Tahun 1894, Ludwig Strumpell juga bilang mimpi itu susah diingat karena alurnya berantakan.. Kemudian juga pada tahun 1894, Ludwig Strumpell juga mengatakan mimpi itu sangat susah diingat karena alurnya yang sering tidak berkaitan, dalam satu masa tidur. Ya seperti halnya sinetron indonesia yang alur ceritanya ribet dan ngga beraturan, itu membuat mimpi kita akhirnya makin susah diinget oleh memori jangka pendek kita.


 Senangnya kita bisa bermimpi karena ternyata bisa meningkatkan daya ingat memori kita….
 Akhirnya kurang lebih kita tahu, kenapa kita bermimpi. Karena nyatanya, bermimpi adalah hal yang sangat baik bagi kita. Seperti dapat meningkatkan daya ingat memori kita, yang tentunya sangat berguna di saat kita lagi ujian. Lalu mimpi juga terbukti dapat meredam emosi kita, memperbaiki kesehatan mental kita dan bahkan terbukti dapat mengurangi stres kita secara keseluruhan. Jadi, setelah tulisan ini anda makin terinspirasi buat bermimpi. Tapi jangan terlalu lama tidur untuk bermimpi, karena kehidupan nyata pun sebenernya sama indahnya.



Related image