Powered By Blogger

Senin, 20 September 2021

Mitos Siluman Ular di Keraton Yogyakarta, Sesajennya Jenewer dan Candu

 



 Ular menampakkan diri di Keraton Yogyakarta pada malam Jumat. Ular memang menjadi simbol sarat makna di budaya Jawa. Bahkan ada mitos soal siluman ular yang menjaga Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Dikutip dari buku 'Problematika Tugu Yogyakarta dari Aspek Fungsi dan Makna' karya Lutse Lambert Daniel Morin, mitos ini berlatarkan periode Pangeran Mangkubumi (Hamengkubuwana I) yang mencari lokasi pusat pemerintahan.


Alkisah, Pangeran Mangkubumi, yang bertempat tinggal di Pesanggrahan Ambarketawang, sedang mencari calon lokasi keraton sebagai pusat pemerintahan. Saat itu, Perjanjian Giyanti yang membelah Mataram baru saja diteken.


Pangeran Mangkubumi ingin keraton barunya berada di antara dua sungai supaya kondusif untuk irigasi pertanian serta punya garis imajiner Gunung Merapi dan Laut Selatan. Dipilihlah Desa Pacethokan di tengah hutan Paberingan (hutan beringin). Daerah ini diapit Sungai Code di timur dan Sungai Winongo di barat.

Hutan beringin tersebut dijaga dua ekor ular naga. Nama dua naga itu adalah Kiai Jaga dan Kiai Jegot (kadang ditulis Kiai Jegod).




0 komentar:

Posting Komentar

Related image