Powered By Blogger

Rabu, 12 Mei 2021

Mitos Genderuwo dan Pohon Besar

 



Kepuh merupakan salah satu jenis pohon yang banyak dimitoskan dihuni oleh makhluk ghaib, seperti genderuwo. Hal ini, mungkin dikarenakan pohon kepuh banyak ditemukan di tempat-tempat yang terkesan “angker”, seperti pemakaman, punden ataupun tempat-tempat yang jarang dikunjungi manusia. Apalagi pohon kepuh juga memiliki perawakan atau habitus sebagai pohon yang tinggi, dengan ukuran batang dan cabang-cabang yang besar, yang kemudian menambah kesan seram pohon ini.


    Kepuh adalah merupakan salah satu jenis pohon yang ditemukan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Jenis pohon ini sudah sangat langka, mungkin karena kesan angkernya sehingga masyarakat jarang mau menanamnya. Di DIY, masih adabeberapa lokasi yang masih dapat ditemukan pohon kepuh ini antara lain: Dusun Bobung Desa Nglanggeran, Patuk Gunungkidul, Desa Ngeposari Semanu Gunungkidul, petak 19 Tahura Bunder Gunungkidul. Pohon kepuh mempunyai beberapa nama lokal antara lain: halumpang (Batak),  kĕpoh, kolèangka  (Sunda), kepohkepoh, jangkang (Jawa), jhangkang, kekompang (Madura), kepah, kekepahan (Bali), kepoh, kelompang, kapaka, wuka, wukak  (NTT), bungoro, kalumpang (Makasar), alumpang, alupang,  kalupa (Bugis ), kailupa furu, kailupa buru (Maluku Utara).


    Kepuh sering didapati di hutan-hutan dataran rendah hingga ketinggian 500 m dpl., terutama di wilayah yang agak kering. Pohon ini di waktu-waktu tertentu menggugurkan daun, persebaran alami meliputi wilayah Afrika timur,  Asia Selatan,  Asia Tenggara, Kepulauan Nusantara hingga ke Australia, asal usul kepuh diperkirakan dari Afrika tropis.


Ciri-Ciri Morfologi



Secara morfologis tanaman kepuh mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: pohon berhabitus besar mampu tumbuh dengan ketinggian 40 meter, berakar banir dengan ukuran yang cukup tinggi; daun bertipe majemuk menjari, bertangkai 12,5–23 cm, berkumpul di ujung ranting. Anak daun berjumlah 7-9, jorong lonjong dengan ujung dan pangkal meruncing; Bunga majemuk dalam malai dekat ujung ranting, panjang 10–15 cm, hijau atau ungu pudar; dengan kelopak yang berbagi-5 laksana mahkota, taju hingga 1,3 cm; Buah bumbung besar, lonjong gemuk, 7,6–9 x 5 cm, berkulit tebal, merah terang, akhirnya mengayu; berkumpul dalam karangan berbentuk bintang. Biji 10-15 butir per buah, kehitaman, melekat dengan aril berwarna kuning, 1,5–1,8 cm panjangnya. Kuli kayu bertekstur sedang, berwarna putih kehitaman atau keabu abuan, kayu gubal berwarna putih, kayu teras bergaris – garis berwarna kuning bertekstur halus. 


Manfaat 

Bagian kayunya dapat dimanfaatkan sebagai bahan konstruksi ringan pada rumah antara lain: gordin, rangka plafon, risplang dan papan cor. pemanfaatan lain dari bagian kayunya antara lain: untuk membuat perahu, peti mati. dan mebel. 

Daun-daunnya konon digunakan untuk mengobati demam, mencuci rambut, dan sebagai tapal untuk meringankan sakit pada kaki dan tangan yang terkilir atau patah tulang. Kulit kayunya diseduh sebagai obat penggugur kandungan (abortivum).




Kulit buahnya yang tebal dibakar hingga menjadi abu, dan digunakan untuk memantapkan warna yang dihasilkan oleh kesumba. Air rendaman abu ini juga digunakan sebagai obat penyakit kencing nanah.Biji kepuh mengandung minyak  Sebagaimana dicatat oleh Heyne, inti bijinya mengandung 40% minyak kuning muda yang tak mengering. Biji-biji ini disangrai untuk dimakan atau dibuat sambal. Biji kepuh dulu juga acap dikempa untuk diambil minyaknya, yang berguna sebagai minyak lampu, minyak goreng, sebagai malam untuk membatik. Mengandung senyawa racun, biji ini juga dimanfaatkan sebagai obat (bahan jamu). Biji kepuh juga mempunyai potensi untuk pembuatan bio diesel.


0 komentar:

Posting Komentar

Related image