Powered By Blogger

Jumat, 22 November 2019

Asal Mula Es Puter Cong Lik



Semasa kecil, di kawasan pecinan Semarang, ia dikenal sebagai kacung cilik. Berkat perjuangan kerasnya, ia jadi juragan es putar. Saking larisnya, hanya beberapa jam jualan, dagangannya langsung ludes. Kendati hidupnya sudah sejahtera, ia tetap sederhana.

Di Semarang, es putar bikinan Cong Lik (76 tahun), amat disukai konsumen karena kelezatannya. Begitu legendarisnya es putar Cong Lik, pelancong dari luar kota banyak yang mampir ke warungnya saat singgah di Semarang.

Uniknya, Cong Lik tak berjualan es saat siang yang begitu terik. Ia berjualan mulai pukul 19.00 di Gang Warung. “Maunya, sih, jualan siang hari. Tapi susah cari tempatnya. Sewa, kan, mahal. Nah, di Gang Warung ini saya tidak menyewa. Saya hanya memberi uang kebersihan pada kelurahan dan uang listrik pada pemilik toko yang terasnya saya pakai,” ujar Cong Lik

Kendati demikian, dagangan Cong Lik selalu laris. Itu sebabnya, Cong Lik membuka 3 cabang berturut-turut. Masing-masing di Jalan Seroja, Jalan MT. Haryono, dan di depan swalayan Sarinah, Telogosari. “Di sana, anak-anak saya yang jualan. Rasanya, sih, sama saja. Resepnya, kan, dari saya,” tutur ayah 7 anak dan kakek 9 cucu ini.

MULAI MANGKAL

Nama Cong Lik di kalangan pencinta es putar memang terkenal. Namun, banyak yang tidak tahu nama sebenarnya. “Saya orang Jawa tulen. Wong namanya Sukimin. Saya asal desa Gebanganom,” tutur Cong Lik.

Lantas bagaimana sejarah nama itu? Cong Lik tidak ingat siapa yang pertama kali memberi julukan itu. Yang jelas “Cong Lik” singkatan dari kacung cilik (pembantu kecil). “Ceritanya semasa kecil saya jadi pembantu orang Jepang yang tinggal di Hotel Jansen, Semarang. Oleh majikan, saya sering disuruh-suruh, misalnya beli es krim. Orang-orang pun memanggil saya kacung cilik disingkat Cong Lik.”

Usai Jepang meninggalkan Tanah Air, Cong Lik bekerja jadi pembantu pedagang es putar bernama Taryo yang asli Pekalongan. “Saya ikut ke luar masuk kampung menjajakan es putar,” cetus Cong Lik yang tak ingin selamanya jadi kacung. “Saya mulai menabung. Setelah uang terkumpul, saya membeli gelas dan sendok. Saya ingin jualan sendiri.”

Cong Lik menyampaikan keinginannya pada Taryo. Ia juga menyewa gerobak pada majikannya. Kendati sudah mandiri, tetap saja Sukimin dipanggil kacung cilik. “Saya malah berterima kasih pada mereka. Soalnya nama Cong Lik malah jadi berkah,” ujarnya sambil tersenyum.

Dengan penuh ketekunan, Cong Lik menjajakan es putarnya dari kampung ke kampung. Pelanggannya mulai anak-anak sampai orang tua. Saking banyaknya yang suka, saat keliling di suatu kampung, banyak pembeli dari kampung lain yang memburunya. “Banyak, lho, pembeli yang tidak sabaran seperti itu.”

Suatu ketika, ada pelanggannya yang tidak sabaran itu usul agar Cong Lik mangkal di satu tempat. “Maksudnya supaya calon pembeli tidak usah terlalu lama menunggu saya putar kampung. Usulan itu saya terima.”

TIAP MALAM MOBIL BERDERET

Selanjutnya, Cong Lik yang tahun 1954 telah menikahi Ranten (74 tahun), membuka warung kaki lima di kawasan Mbesen. “Istri saya yang jualan di sana. Saya sendiri masih jualan dari kampung ke kampung. Ternyata, dagangan saya semakin laris. Saya mulai sering menerima pesanan,” ujar Cong Lik.

Tak hanya dari Semarang, pesanan juga datang dari Surabaya dan Jakarta. “Banyak orang kaya dari luar daerah yang mau bikin pesta untuk perkawinan, pesan es di sini. Mereka tak sayang mengeluarkan banyak uang. Padahal, transportasinya harus pakai pesawat. Iya, lho, es putar saya sering naik pesawat, tapi saya malah belum pernah,” katanya sembari terkekeh.

Untuk mengirim es putar ke luar daerah, Cong Lik mengenakan harga lebih tinggi daripada pesanan orang dalam kota. “Ngirimnya, kan, harus pakai boks khusus,” ujar Cong Lik yang kini sebagai juru cicip. “Rasanya enggak boleh berubah. Harus pas dengan resep saya. Kalau berubah, bisa enggak laku.”

Tahun 1992, Cong Lik memindahkan usahanya ke Gang Warung di depan toko kain. “Kalau malam toko ini tutup. Pemiliknya lalu mempersilakan Bapak buka disini tanpa dipungut uang sewa,” tutur Ivon, anak bungsu Cong Lik.

Di tempat baru, pembelinya justru semakin banyak. Hampir setiap malam mobil berderet. “Banyak lho yang tidak mendapat tempat duduk,” lanjut Ivon yang tiap malam menemani ibunya jaga di Gang Warung.

Bila musim panas, dalam sehari Cong Lik biasa memproduksi 10 tabung. “Kalau hujan paling cuma 8 tabung dengan 8 rasa yang berbeda. Soal rasa, biasanya sesuai musim buah,” imbuh Ranten yang bangga pembelinya awet sampai puluhan tahun. “Ada lho yang sejak remaja sampai tua jadi pelanggan saya.”

SUKA TINGGAL DI KONTRAKAN

Cong Lik mengalami masa panen ketika tiba hari-hari besar nasional dan musim ada hajatan. “Saya bisa bikin lebih dari 15 tabung. Satu tabung saya jual Rp. 100 ribu – Rp. 150 ribu. Harganya tergantung kemasan dan jenis buahnya. Es putar durian harganya paling mahal,” kata Ranten.

Masih kata Ranten, harga semangkuk es di warungnya Rp 5 ribu. Hanya buka beberapa jam, biasanya dagangan sudah ludes. “Kalau lagi ramai, belum sampai jam sepuluh malam sudah habis. Tapi, kalau musim hujan, terkadang masih ada sisa,” papar Ranten yang masih belanja sendiri.

Proses pembuatan es putar menurut Ranten amat sederhana. Setelah semua resep pokok es putar seperti gula, buah, air matang diadoni dalam tabung tertutup, selanjutnya diletakkan di tengah-tengah es batu yang telah dicampur garam. Selanjutnya tabung khusus itu diputar-putar sampai uap es masuk ke dalam tabung dan mengkristalkan adonan di dalamnya.

Meski tampak gampang, tidak semua orang dapat membuatnya. Terutama soal resep yang pas di lidah. Tak heran, Cong Lik sering kali menerima tawaran dari para pemilik modal di Jakarta, Surabaya, dan Semarang agar membeberkan resepnya. “Ada yang mau belajar dengan memberi sejumlah uang. Katanya mau buka restoran es. Nantinya tetap pakai nama Cong Lik.”

Namun, Cong Lik dan Ranten tidak bersedia menerima tawaran kerja sama. Alasannya sederhana. “Rezeki yang kami peroleh sudah cukup. Kami sudah bersyukur. Bayangkan, dulu kamar yang kami sewa, untuk tidur berdua dengan suami saja enggak cukup. Kalau hujan, kami kehujanan. Alhamdulillah sekarang kami tidak kepanasan dan kehujanan,” tutur Ranten penuh rasa syukur.

Ranten pantas bersyukur karena hasil jualan es putar memang mampu menyejahterakan keluarganya. “Semua anak sudah saya belikan rumah. Tapi, saya lebih suka tinggal di rumah kontrakan di belakang Pasar Dargo. Soalnya biar gampang kulakan es dan buah,” ungkap Ranten.

Dari 7 anaknya, hanya 3 yang berminat jualan es. “Saya tidak maksa anak-anak harus jualan es. Kalau dipaksa malah enggak baik. Silakan mereka mau apa saja boleh. Kalau punya minat, saya beri resep biar rasanya sama dengan yang saya jual di Gang warung,” tutur Ranten yang kini memegang kendali usahanya. “Habis saya sudah tua. Baca tulis juga enggak bisa. Istri saya ini, kan, pinter. Biar dia yang ngurus semua,” timpal Cong Lik.

Kendati memiliki beberapa rumah dan dua mobil, Cong Lik memang tampak bersahaja. Ia tetap ramah pada siapa pun yang datang padanya. Lalu, apa kiat suksesnya? “Kalau mau berhasil, orang harus berjuang. Harus kerja keras. Kalau enggak mau berjuang, mana mungkin akan hidup enak,” ujarnya bijak.

Aku yang seharusnya janjian dengan kawanku untuk bertemu di hotel, langsung memindahkan lokasi ketemuan ke warung Es Puter Conglik ini, haha:

Well, warungnya tergolong rame, mengingat itu sudah lewat jam 9 malam. Aku bahkan sempat ‘disetrap’ diujung, menunggu ada kursi kosong untuk diduduki wkwkwk. Barulah setelah sekitar 5 menit, akhirnya aku bisa duduk dan kemudian mulai memesan.

Soal varian rasa, Es Puter Conglik ini termasuk yang menawarkan banyak pilihan:

Juga beberapa topping:

Sehingga setelah sibuk memilih ini dan itu, inilah penampakan Es Conglik pesananku:

Masalahnya, lha kok setelah mencoba, aku merasa Es Conglik ini biasa aja, haha! Lebih enak es puter Pak Min di Bonet (Surabaya), lho!

0 komentar:

Posting Komentar

Related image