Powered By Blogger

Rabu, 21 April 2021

Orang Medan dibilang galak, padahal sesungguhnya baik

 

Di Medan ada istilah "wajah Rambo hati Rinto". Ungkapan itu menggambarkan sosok yang galak bak pembunuh namun berhati melankolis seperti penyuka lagu-lagu era ‘80-an.

Seperti ungkapan itu, begitu pula karakter umum orang Batak yang sering dianggap sebagai orang Medan. Saat berbicara, mereka sering terdengar keras dan kasar, padahal hatinya baik.

“Sifat orang Batak itu baik dalam berkawan, setia pada teman. Kalau sudah berteman, kita bisa andalkan,” ucap antropolog Universitas Negeri Medan (Unimed) Prof Dr Usman Pelly.

Dia menyatakan, suara keras orang Batak Toba, tidak terlepas dari kondisi geografis dan lingkungan daerah asalnya. “Apabila kelompok tinggal agak berjauhan atau hidup di perladangan luas, mengharuskan mereka berteriak keras untuk berkomunikasi,” jelas Usman.

Karakter suku Batak yang kasar dan berani menyampaikan pendapat memberi andil pada akulturasi budaya pada penduduk multietnik di Medan, sehingga menjadi karakter umum orang-orang di kota ini. “Terjadi take and give, masing-masing memberi juga menerima pada akulturasi itu. Alhasil orang Jawa yang tinggal di Medan juga menjadi lebih terus terang,” jelas Usman.

Seorang psikolog di Medan, Irna Minauli, pernah membuat kajian tentang psikologi lokal kedaerahan pada 2004-2006. Dia meneliti penanganan kemarahan yang berhubungan dengan hubungan darah Batak Toba, Jawa, dan Minangkabau.

Dari penelitian itu ditemukan bahwa tingkat kemarahan pada ketiga etnis ini sebenarnya sama. Perbedaannya hanya pada cara mengekspresikan. “Kesimpulannya, orang Batak lebih agresif pada perkataannya dibandingkan pikirannya,” jelas Irna.

Keagresifan dan keterusterangan pada kata-kata orang Batak diperoleh dari kultur dan lingkungannya. Sejak kanak-kanak, orang Batak sudah terbiasa melihat atau terpapar konflik, baik di keluarga maupun lingkungan. Mereka pun dibolehkan mengemukakan pendapat. Artinya adat memberikan kesempatan untuk bersikap berani sehingga menyebabkan sikap spontan.

“Rata-rata konflik, walaupun bersifat pribadi, diselesaikan keluarga besar secara terbuka. Konsep modeling dari orang tua dan faktor budaya lokal itu sangat memengaruhi sikap tumbuh kembang seorang Batak,” pungkas Irna.

Karenanya, kalau seorang Medan terus terang dan menyampaikan dengan kata-kata dengan kasar dan galak, belum tentu niatnya seburuk itu. Boleh jadi dia “Rambo berhati Rinto

0 komentar:

Posting Komentar

Related image