Powered By Blogger

Minggu, 19 Juli 2020

Santai Saja, Ini 5 Alasan Tidak Perlu Terobsesi pada Perasaan Bahagia

Santai Saja, Ini 5 Alasan Tidak Perlu Terobsesi Perasaan Bahagia

Setiap orang berhak untuk merasakan kebahagiaan. Bahkan bahagia menjadi sebuah perasaan yang diinginkan setiap orang.

Sangat beragam perasaan bahagia, tentunya kebahagiaan setiap orang berdasarkan hal yang berbeda-beda. Tetapi perasaan yang menyenangkan ini tidak baik jika kita terlalu terobsesi. 

Siapapun boleh berbahagia dan berusaha mencari kebahagiaan seperti yang diinginkan.

Namun apabila hingga terobsesi, itu bukan hal yang baik. Tidak perlu terburu-buru, ini alasan kamu harus lebih santai dan tidak terobsesi untuk merasakan kebahagiaan. Berikut dari Popmama.com


1. Terkadang kebahagiaan bersifat subjektif

1. Terkadang kebahagiaan bersifat subjektif

Setiap orang memiliki standar kebahagiaan yang berbeda. Hal itu membuktikan bahwa kebahagiaan bersifat subjektif.

Bahkan, penelitian dari psikologi juga menemukan adanya kebahagiaan subjektif dari cara pandang tiap orang yang berbeda-beda. 

Misalnya saja, Mama akan bahagia jika dapat meluangkan waktu bersama keluarga.

Akan berbeda halnya dengan orang lain yang akan merasa bahagia jika memiliki waktu luang hanya untuk dirinya sendiri.

Kebahagiaan juga diukur berdasarkan kondisi yang dialami seseorang. Jadi, rasa kebahagiaan yang sekarang dialami belum tentu akan sama saat didapatkan lagi.

2. Perasaan positif tidak hanya bahagia

2. Perasaan positif tidak ha bahagia

Banyak bentuk dari perasaan positif. Tetapi terkadang kita hanya fokus mencari perasaan positif dalam bentuk kebahagiaan yang kita inginkan.

Padahal, masih ada perasaan positif lain seperti bersyukur dan menerima hal yang terjadi dengan lapang dada.

Perlu untuk kita menyadari adanya perasaan positif yang bisa kita rasakan. Masih ada emosi positif lainnya.

Menurut psikolog Barbara Frederickson, ada 10 jenis emosi positif yang dimiliki oleh manusia. Diantaranya yaitu: senang, bangga, tenang, berterima kasih, harapan, girang, penasaran, terpukau, terinspirasi, dan cinta.


3. Perasaan bahagia hanya sementara

3. Perasaan bahagia ha sementara

Namanya kehidupan, tidak selalu merasakan kebahagiaan. Ada masanya kita bertemu dengan perasaan sedih, kecewa, marah, dan lainnya. Untuk itu kita harus menyadari bahwa ada fase-fase tidak menyenangkan yang akan kita alami. 

Perasaan bahagia cenderung adiktif. Itu mengapa kita menginginkan kebahagiaan terus menerus.

Padahal, rasa bahagia yang kita alami dapat berubah mengikuti kondisi. Pada dasarnya kebahagiaan itu bukan berarti menolak perasaan lain yang kita rasakan.

4. Menjadi punya standar kebahagiaan

4. Menjadi pu standar kebahagiaan

Terlalu berusaha keras mengejar kebahagiaan justru membuat hidup tidak realistis. Hidup harus dijalani sesuai kemampuan kita sendiri.

Agar tidak terjebak mengejar kebahagiaan, tempatkan diri sesuai dengan ukuran bahagia diri kita. Jangan meletakkan kebahagiaan diri kita harus sama dengan orang lain.

Memiliki standar bahagia justru akan membuat diri kita menjadi sulit untuk berkembang.

Menyadari kebahagiaan bukan untuk dikejar jadi cara paling sederhana untuk mendapatkan rasa bahagia.

Tenang saja, kebahagiaan akan selalu berdampingan dengan saat-saat kita terpuruk.

Jadi, tidak perlu cemas akan perasaan bahagia yang belum kita dapatkan kembali.


5. Sulit mengendalikan diri

5. Sulit mengendalikan diri

Segala sesuatu yang berlebihan memang tidak baik. Termasuk perasaan bahagia.

Terlalu banyak merasakan emosi positif ini dapat membuat seseorang tidak mampu menghadapi tantangan baru. Hal itu karena terbiasa berada di dalam zona nyaman yang disenangi.

Perasaan bahagia juga dapat membuat seseorang merasa puas. Secara tidak sadar, akan mengurangi produktifitas dan membuat hidupnya menjadi lebih lambat dalam mencapai kesuksesan.

Bahkan, salah satu penelitian menyebutkan bahwa orang yang terlalu bahagia terus menerus cenderung akan mengabaikan ancaman dan menjadi lebih gegabah.

Jadi, tidak selamanya perasaan selalu bahagia itu baik. Tidak perlu melihat kebahagiaan berdasarkan standar orang lain ya, Ma.

Setiap orang memiliki pengalaman dan sudut pandang kebahagiaan yang berbeda. Semakin sibuk mengejar kebahagiaan justru membuat kita semakin jauh dari rasa bahagia yang sesungguhnya.

0 komentar:

Posting Komentar

Related image