Powered By Blogger

Jumat, 06 November 2020

5 Kesalahpahaman dalam Dunia Fauna yang Terlanjur Dipercaya, Apa Saja?

Dalam dunia hewan, ada beberapa kesalahpahaman atau anggapan salah kaprah yang masih dipercaya hingga kini. Anggapan-anggapan tersebut masih dianggap benar, bahkan sering diberitakan di berbagai media. Memang, kadang kesalahpahaman tersebut bersifat sederhana, tapi tetap saja tidak sesuai dengan fakta yang ada.

Inilah beberapa kesalahpahaman dalam dunia fauna yang sudah dianggap lumrah. Yuk, belajar lebih kritis terhadap sesuatu. Baca artikelnya hingga tuntas, ya!

1. Kucing takut dan tidak suka dengan air


Siapa bilang kucing tidak suka dengan air? Jika kucing anti terhadap air, seharusnya mereka juga tidak akan minum air. Faktanya, kucing sama seperti hewan-hewan lainnya yang selalu membutuhkan air. Anggapan mengenai kucing membenci air tidak sepenuhnya tepat. Mungkin yang benar adalah kucing tidak begitu suka mandi.

Laman sains fauna Animal Planet menjelaskan mengapa kucing seolah membenci air. Mungkin ada beberapa kucing yang memang sangat tidak suka berenang atau mandi. Namun, rupanya ada banyak ras kucing yang sangat suka bermain dengan air. Fakta ini sekaligus mematahkan anggapan awam yang menyatakan bahwa kucing selalu takut dengan air.

Oh ya, rata-rata kucing juga tidak memiliki fobia terhadap air. Dalam banyak kesempatan, kucing dapat bermain dengan air sesuka hati mereka. Ketidaksukaan kucing terhadap air lebih condong disebabkan oleh faktor manusia. Sejak zaman dulu, pemilik kucing sering bertindak melindungi kucing mereka dari guyuran air hujan.

Di zaman kuno, pemilik kucing di Eropa juga akan "memaksa" kucing peliharaan mereka untuk tidak bermain di luar dengan alasan cuaca bersalju. Padahal, kucing sejatinya selalu penasaran dengan salju dan air. Hal tersebut dibuktikan di alam liar. Kucing hutan adalah spesies yang sangat pandai berenang.

Satu lagi, berbeda dengan kucing hutan, kucing rumahan memang tidak perlu mandi terlalu sering. Pasalnya, mereka sudah dapat merawat tubuh mereka dengan cukup baik. Kebanyakan kucing peliharaan akan menjilati sekujur tubuhnya dan itu merupakan cara mereka untuk membersihkan tubuh dari kotoran.

2. Usia seekor anjing adalah kelipatan 7 tahun usia manusia


Anjing adalah hewan peliharaan yang sudah lama dianggap sebagai sahabat bagi manusia. Kecerdasan dan kesetiaan anjing sudah tidak perlu diragukan lagi. Namun, rupanya ada banyak pemilik anjing yang masih salah dalam menghitung usia anjing mereka. Banyak dari mereka yang menganggap bahwa 1 tahun usia anjing setara dengan 7 tahun usia manusia.

Lantas, bagaimana cara mengetahui usia anjing yang paling mendekati akurat? Sebuah studi dan penelitian terbaru yang dicatat dalam Science Daily menjelaskan bahwa pengukuran usia anjing yang benar jauh lebih kompleks dibandingkan dengan cara-cara sebelumnya. Mungkin, zaman dulu usia anjing akan disamaratakan dengan kelipatan 7 tahun usia manusia. Namun, saat ini, cara kuno tersebut terbukti salah.

Ilmuwan dan peneliti sepakat bahwa pertambahan usia pada anjing dan hewan lainnya harus ditandai dengan perubahan sel atau DNA dari organisme yang bersangkutan. Nah, pengukuran yang melibatkan perubahan sel DNA dalam tubuh anjing rupanya membawa sebuah kesimpulan berupa rumus atau formula yang baru.

Rumus terbaru mengukur usia anjing: usia manusia = 16 x ln (usia kronologis anjing) + 31. Dalam hal ini, fungsi persamaan ln mewakili fungsi matematika dalam logaritma alami. Nah, untuk memahami fungsi logaritma ln, kamu bisa melihat tabel matematika yang ada di internet.

Jika usia kronologis anjingmu adalah 20 tahun, usianya jika dimasukkan ke usia manusia: 16 x ln (20) + 31 = 47,931 + 31 = 78,93 atau 79 tahun. Kamu bisa menghitungnya secara detail melalui kalkulator yang memiliki tombol ln untuk menemukan jawabannya. Bagaimana? Penghitungan ini sangat berbeda dengan perkalian 7 tahun, bukan?

3. Serigala melolong hanya pada saat bulan purnama


Serigala melolong hanya pada saat bulan purnama? Tentu saja ini adalah anggapan yang salah total. Faktanya, serigala selalu melolong setiap hari karena lolongan mereka adalah bentuk komunikasi antara serigala yang satu dengan serigala lainnya. Mungkin kesalahpahaman tersebut bisa ada lantaran di zaman dulu ada mitos atau takhayul mengenai manusia serigala setiap bulan purnama.

National Geographic dalam lamannya mencatat bahwa serigala menggunakan suara lolongan sebagai bentuk komunikasi jarak jauh yang paling efektif. Dalam lolongan tersebut, terkandung banyak informasi mengenai berbagai macam hal, seperti posisi kawanan, keberadaan mangsa dan predator, serta informasi lainnya yang berkaitan dengan keberadaan serigala di tempat yang jauh.

Bukan hanya di malam hari, serigala juga melolong pada siang hari. Bahkan, semakin banyak kelompok serigala di sebuah habitat tertentu, semakin sering terdengar lolongan serigala yang akan bersautan dari waktu ke waktu. Bagi serigala muda, lolongan dapat berfungsi untuk mempererat kelompoknya dan mungkin dengan kelompok serigala lainnya.

Zaman dulu, di saat listrik masih belum ditemukan, orang-orang di dataran Eropa akan keluar pada saat bulan purnama. Terang dari cahaya bulan akan membantu banyak orang dalam melihat di kegelapan malam. Nah, kebetulan mereka juga selalu mendengar lolongan serigala pada saat keluar di malam hari. Sayangnya, mitos dan kesalahpahaman tersebut masih bertahan hingga kini.

4. Burung hantu dapat memutar kepalanya hingga 360 derajat



Kamu bisa bayangkan betapa mengerikannya jika ada hewan yang dapat memutar kepalanya hingga 360 derajat. Namun, konon katanya, seekor burung hantu bisa melakukannya. Apa benar demikian? Faktanya, burung hantu memang dapat memutar kepalanya secara ekstrem, tetapi tidak sampai 360 derajat.

Ya, menurut laman sains National Geographic, seekor burung hantu dapat memutar kepalanya hanya sebatas pada titik maksimal 270 derajat tanpa merusak aliran darah dan tulang rawan yang ada di leher dan kepalanya. Bahkan, beberapa kalangan ilmuwan memiliki julukan khusus untuk gerakan "lucu" ini, yakni gerakan fleksibilitas ala eksorsis.

Mengapa kepala burung hantu bisa begitu fleksibel? Hal tersebut terjadi karena burung hantu memiliki banyak tulang belakang dan tulang kecil yang menyangga lehernya. Tulang-tulang kecil pada leher burung hantu bersifat lentur dan dapat meminimalkan cedera akibat gerakan-gerakan tertentu.

Melalui studi dan penelitiannya, peneliti satwa dari Universitas Johns Hopkins mengungkap bahwa burung hantu juga ternyata memiliki arteri (pembuluh darah) cadangan yang dapat memberikan nutrisi dan pasokan oksigen pada saat arteri utama tertutup akibat gerakan eksorsis tadi. Bagaimana? Cukup unik, bukan?

5. Apakah ayam benar-benar tidak dapat menumbuhkan gigi?


Apakah ayam benar-benar tidak memiliki gigi? Untuk menjawab pertanyaan ini, dibutuhkan studi dan penelitian yang mendalam mengenai garis evolusi dari ayam itu sendiri. Pada dasarnya, secara genetik ayam memiliki gigi. Namun, evolusi membuat spesies ayam berkembang tanpa gigi fisik di dalam paruh mereka.

Bahkan, ada fakta mengejutkan dalam hal ini. Menurut ilmuwan dan akademisi di bidang biologi, ayam rupanya masih dapat menumbuhkan giginya. Ya, studi mengenai gigi ayam pernah ditulis dalam laman Live Science. Fakta menarik ini tentu tidak bisa dilepaskan dari kesimpulan sains bahwa unggas memang kerabat dekat dari reptil, setidaknya dalam alur evolusi mereka.

Sekitar 300 juta tahun lalu, nenek moyang dari vertebrata modern berevolusi menjadi dua kelompok besar, yakni mamalia dan reptil. Nah, beberapa kelompok reptil berevolusi menjadi unggas dan akhirnya memunculkan banyak spesies unggas yang memiliki gigi tajam.

Namun, perkembangan evolusi rupanya terbukti membawa keuntungan bagi unggas-unggas tertentu dengan cara menghilangkan gigi mereka. Perubahan ini terjadi dalam rentang waktu ratusan juta tahun. Hal ini dapat dibuktikan dengan fosil unggas berusia 80 juta tahun yang sudah tidak memiliki gigi, berbeda dengan unggas berusia 200 juta tahun yang masih bergigi tajam.

Nah, rupanya ayam modern masih menyimpan warisan genetik untuk menumbuhkan gigi mereka. Meski begitu, secara fisik, gigi mereka tidak ditampakkan. Dengan kata lain, ayam dapat menumbuhkan gigi-gigi mereka jika perubahan genetik dalam evolusi terjadi akibat faktor lingkungan. Namun, tentu hal ini membutuhkan waktu puluhan juta tahun. Untuk saat ini, ayam tidak membutuhkan gigi karena mereka dapat makan dan bertahan hidup tanpa gigi.

Itulah beberapa kesalahpahaman yang ada di dalam dunia fauna. Semoga artikel ini dapat menghilangkan kesalahpahaman atau anggapan salah kaprah yang selama ini ada, ya!

0 komentar:

Posting Komentar

Related image