Powered By Blogger

Selasa, 03 November 2020

5 Sikap Orangtua Ini Bisa Bunuh Karakter Baik pada Anak Lho

Tak ada kamus pasti dalam mendidik anak. Namun, orangtua bisa memberikan dan mengajarkan hal-hal baik sebagai bekal si anak.

Setiap anak memiliki potensi kebaikannya masing-masing. Tinggal bagaimana si anak, dibantu orangtua, memaksimalkan setiap potensi tersebut. '

Sayangnya, tak sedikit orangtua yang tanpa sadar justru menghalangi sejumlah potensi-anaknya berkembang loh. Tindakan-tindakan orangtua yang sekilas "gak apa-apa" untuk dilakukan, rupanya bisa berdampak besar bagi hidup anak-anak. 

Nah, berikut beberapa tindakan yang sebaiknya dihindari orangtua. 

1. Orangtua menolak pemberian si anak



Ketika seorang anak memberikan kepunyaannya pada orang lain, hal itu menunjukkan bahwa sudah ada bibit ketulusan dalam hatinya. Namun sayang, bibit tersebut sering dimatikan oleh orangtua atau orang-orang terdekatnya sendiri. Karena tak jarang orang dewasa dengan tega menolak pemberian dari seorang anak kecil.

Kamu bisa memerhatikan perubahan raut wajah seorang anak yang pemberiannya kamu tolak. Ia yang awalnya berlari riang menghampirimu untuk memberikan padamu apa yang ia pegang, akan langsung berubah sedih saat kamu menolaknya. Sebaiknya jangan menolak langsung pemberian seorang anak. Apakah ia memberimu sisa roti, buah kesukaannya atau mainan kumal yang baru ia pungut di tepi jalan.

Jika anakmu menyodorkan kepadamu sepotong makanan yang tidak kamu suka atau sudah tidak layak lagi untuk dimakan karena kotor, sebaiknya kamu terima saja dulu sambil mengucapkan terima kasih dengan tulus.

 Begitu juga ketika ia memberikan sesuatu yang ia anggap sebagai mainan, berikanlah apresiasi pada pemberiannya meski kamu merasa mainan itu tidak penting.

Menerima pemberian seorang anak kecil berarti memberi ia kesempatan merasa berguna untuk orang lain di sekitarnya. Sedangkan menolaknya berarti kamu gagal mengajarkan kepada seorang anak tentang arti pentingnya saling berbagi.

2. Orangtua mengacuhkan ceritanya


Salah satu tantangan keluarga di era modern--apalagi ada pandemik-- adalah gawai. Setiap anggota keluarga sibuk dengan gawai masing-masing.

Begitu sibuknya dengan pekerjaan dan gawai, orangtua kerap gak punya waktu banyak untuk mendengarkan cerita si kecil. 

Padahal, dengan bercerita, seorang anak kecil sedang mempelajari banyak hal; mengekspresikan dirinya, mengasah ingatannya dan meningkatkan kemampuan verbalnya. Jika kamu mendengarkan ceritanya dengan penuh perhatian, kamu sedang mengajarkan karakter baik yang lainnya, yaitu tentang pentingnya menjadi seorang pendengar.

Saat seorang anak sedang bercerita, sebaiknya pegang telapak tangannya, tatap matanya dan sesekali usap rambutnya dengan lembut. Sering mendapatkan perlakuan seperti itu akan membuat anak tumbuh menjadi pribadi dengan emosional yang baik.

3. Memberikan pembelaan yang membabi buta



Anak-anak terkadang juga memiliki konflik dengan teman-temannya. Itu wajar saja.

Konflik yang awalnya diakibatkan oleh hal-hal remeh tak jarang menjadi pertengkaran. Karena masih memiiliki ego yang sama-sama tinggi dan masih belum bisa menyelesaikan masalah, seringkali konflik tersebut berujung perkelahian fisik.

Karena terdorong oleh naluri untuk melindungi, orangtua kerap terjebak pada pembelaan membabi buta ini. Tindakan yang seperti itu justru buruk dampaknya pada mentalitas anak.

Saat anak sedang bertengkar dengan temannya, selaku orangtua kamu boleh saja mendengarkan penuturannya untuk mencari tahu apa yang terjadi. Tunjukkan padanya kalau kamu bersimpati pada masalahnya, tapi setelah itu jangan lupa untuk mengajarkan tentang arti persahabatan dan sifat saling memaafkan sesama teman.

Alih-alih memberikan pembelaan yang membabi buta, orangtua sebaiknya menawarkan diri sebagai juru damai antara sang anak dengan temannya.

4. Memarahi dan membentak ketika si kecil melakukan kesalahan


Kemarahan, apalagi disertai dengan bentakan, hanya akan merugikan orangtua dan anak. Suasana hati orangtua akan semakin memburuk dan mental anak juga akan rusak. Satu bentakan dari orangtua bisa mematikan jutaan sel saraf pada otak anak. Sementara itu, sel otak yang lainnya akan merekam kemarahan itu, membawanya dalam ingatan hingga ia dewasa nanti.

Kesalahan atau kenakalan-kenakalan yang diperbuat oleh anak dapat diubah oleh orangtua menjadi kesempatan untuk mengajarkan banyak hal. Ajarkan anak bagaimana bersikap yang baik dan bertutur yang baik. Tidak memarahinya saat anak melakukan kesalahan, tanpa sadar, orangtua sedang mengajarkan karakter baik lainnya, yaitu soal memaafkan.

5. Menghilangkan kata "tolong" dan "terima kasih"


Seringkali karena terdorong oleh perasaan superior di atas rumah, orangtua lupa menyertakan kata "tolong" saat memberikan perintah pada anaknya. Dan juga sering luput mengucapkan "terima kasih" setelah ditolong oleh anaknya.

Tidak salah jika orangtua menyuruh anaknya melakukan suatu pekerjaan, tapi momen itu  seyogyanya bisa dimanfaatkan oleh orangtua untuk menumbuhkan rasa saling menghargai pada sang anak. Hargai sekecil apapun jerih payahnya dalam membantu pekerjaanmu agar kelak ia juga tumbuh sebagai manusia yang menghargai manusia lainnya. Dan berikan apresiasi pada nya dengan ucapan terima kasih, maka nanti ia pun akan terbiasa mengucapkan terima kasih.

0 komentar:

Posting Komentar

Related image