Powered By Blogger

Sabtu, 05 Desember 2020

5 Fakta Sejarah tentang Pohon Cemara dan Sinterklas di Perayaan Natal


Bulan Desember adalah bulan yang identik dengan perayaan Natal bagi penganut agama Kristen di seluruh dunia. Biasanya, dalam perayaan Natal ada beberapa simbol atau ornamen yang selalu melekat dan seolah menjadi sebuah keharusan dalam perayaan Natal. Dua hal yang selalu melekat dengan perayaan Natal adalah pohon cemara bersalju dan Sinterklas.

Namun, bagaimana sejarah mereka bisa sampai dijadikan simbol dan makna dalam perayaan Natal? Ya, kali ini kita akan membahas fakta sejarah mengenai pohon Natal dan Sinterklas. Disimak, ya!

1. Pohon cemara memiliki makna khusus bagi orang-orang Eropa



Ada sebuah pertanyaan sederhana yang bahkan belum tentu bisa dijawab oleh orang-orang yang merayakan Natal itu sendiri, mengapa pohon Natal identik dengan cemara? Yup, pertanyaan sederhana namun membutuhkan jawaban yang panjang akan sejarahnya. Faktanya, bagi orang-orang Eropa, Amerika, Kanada, dan bahkan penduduk yang tinggal di wilayah Arktika yang selalu dingin, pohon cemara memang memiliki tempat yang spesial.

Dicatat dalam laman History, cemara adalah salah satu pohon yang bisa bertahan hidup sepanjang tahun, termasuk dalam cuaca ekstrem yang membeku. Hal ini membuat pohon cemara dijadikan makna damai secara simbolis bagi kebanyakan orang Eropa, bahkan sebelum agama Kristen ada.

Oh ya, secara ilmiah pohon cemara memang merupakan salah satu spesies tanaman yang sangat tahan terhadap suhu dingin. Studi ilmiah berjudul Cold Tolerance in Cypress: A Physiological and Molecular Study yang diterbitkan pada 2011 mengungkap bahwa tanaman cemara sanggup bertahan hidup dengan baik pada suhu minus 15 hingga minus 30 derajat celcius.

Nah, setelah agama Kristen masuk ke tanah Eropa secara masif, penggunaan pohon cemara diperluas untuk mempercantik perayaan Natal yang identik dengan salju dan cuaca dingin. Pada awalnya, beberapa warga Eropa kuno memberikan hiasan sekadarnya pada pohon-pohon hijau yang ada di pekarangan rumahnya pada saat musim dingin tiba.

Hal ini berlanjut hingga abad pertengahan, di mana Natal menjadi perayaan paling besar di tanah Eropa kala itu. Di zaman tersebut, banyak warga Eropa yang masih sangat kolot dan minim ilmu pengetahuan. Bagi mereka, penggunaan pohon cemara di musim dingin - selain untuk mempercantik perayaan Natal - juga dipercaya bisa menangkal roh jahat.

2. Selain air, tanaman hijau seperti cemara juga dianggap sebagai sumber kehidupan


Ada beberapa pendapat yang mengaitkan pohon Natal dan tanaman hijau lainnya dengan hal-hal yang berbau mistis atau takhayul yang pernah ada di zaman kuno. Salah satunya adalah anggapan bahwa tanaman hijau merupakan salah satu sumber kehidupan dan keberuntungan. Faktanya, secara ilmiah memang tanaman adalah organisme yang menghasilkan unsur-unsur kehidupan seperti sumber oksigen dan pangan.

Namun, jika dikaitkan dengan kekuatan mistis atau apapun yang berkaitan dengan takhayul, tentu hal tersebut sudah menjadi salah kaprah bagi sains. Terlepas dari itu semua, nyatanya orang-orang zaman dulu memang sangat percaya dengan keberuntungan jika dikaitkan dengan keberadaan tanaman hijau, dilansir dalam laman History.

Tanaman hijau erat kaitannya dengan tradisi atau ritual kuno. Bangsa Romawi kuno, misalnya, yang mengaitkan tanaman hijau (cemara dan pohon lainnya) dengan keberuntungan yang berhubungan dengan dewa pertanian, yakni Saturnus. Begitu pula bangsa Mesir kuno, yang percaya bahwa tanaman palem hijau merupakan simbol kemenangan hidup atas kematian.

Namun, pada saat agama Kristen masuk ke tanah Eropa, kepercayaan rakyat tersebut dihapuskan dan tanaman hijau (termasuk cemara) diubah peruntukannya sebatas pada dekorasi untuk mempercantik lingkungan pada saat Natal tiba. Pada prinsipnya, pohon cemara dijadikan ornamen Natal hanya sebatas pada makna damai secara simbolis. Dan lagi, cemara adalah pohon kuat yang banyak tumbuh di Eropa, Amerika, dan Kanada.

Kalangan ilmuwan dan pakar sejarah menyimpulkan bahwa tradisi penggunaan pohon Natal sebetulnya tidak berkaitan dengan kepercayaan kuno di masa lalu. Namun, di zaman kuno memang ada kepercayaan atau tradisi rakyat yang menempatkan tanaman berdaun hijau sebagai pedoman keberuntungan mereka.

3. Bagaimana dengan Sinterklas?


Siapa Sinterklas itu? Mengapa ia sampai menjadi simbol dan bagian dari perayaan Natal? Laman National Geographic pernah membahas mengenai sejarah dan keberadaan Sinterklas di masa lalu, tentu berdasarkan bukti-bukti sains. Faktanya, Sinterklas merupakan tokoh yang dulunya benar-benar ada, lho.

Sejarah Sinterklas tak bisa lepas dari Saint Nicholas atau Santo Nikolas, seorang uskup ternama dari Myra yang pernah dipenjara di bawah kediktatoran pemerintahan Kaisar Dioklesianus, seorang raja yang memerintah Romawi pada era 300-an Masehi. Nah, sebetulnya Sinterklas tidak hanya identik pada Natal 25 Desember saja karena perayaan khusus untuk mengenang Santo Nikolas justru jatuh pada tanggal 6 Desember.

Uniknya, ahli sejarah yang dibantu pakar forensik, pernah menggambar ulang seperti apa wajah dari Santo Nikolas itu, tentu saja penelitian juga dibantu menggunakan sistem komputerisasi digital modern. Secara umum, tentu wajah dan perawakan Santo Nikolas sedikit berbeda jika dibandingkan dengan Sinterklas modern. Namun, kebaikan hati dan sikap lembutnya telah menjadi simbol sesungguhnya dari makna Sinterklas dalam Natal itu sendiri.

Santo Nikolas dilahirkan pada 15 Maret 270 dan wafat pada 6 Desember 343. Pada saat pemerintahan Romawi kuno, Santo Nikolas pernah dipenjara karena membela agama Kristen secara frontal dari penindasan yang dilakukan oleh Kekaisaran Romawi. Ketika itu, banyak pendeta yang dipaksa meninggalkan agamanya dan bahkan banyak pembakaran kitab suci yang dilakukan oleh pasukan Romawi kuno.

Baru pada era Kaisar Konstantin atau Konstantinus Agung, agama Kristen dibebaskan untuk disebarkan secara terbuka di Eropa. Bahkan, melalui periode Konstantinus itu pula Romawi perlahan menjadi kekaisaran yang menganut agama Kristen sebagai dasar agama negara.

Seorang sejarawan dari Universitas Manitoba, Garry Bowler pernah menulis sebuah buku sejarah berjudul Santa Claus: A Biography, di mana menurut sejarah, Santo Nikolas memang terkenal dengan sikapnya yang lembut terhadap orang-orang yang tertindas. Bahkan, konon Nikolas juga sering memberikan hadiah dan doa kepada orang-orang miskin yang ada di kotanya.

4. Pohon Natal dan Sinterklas tidak selalu identik dengan salju

Kita sudah mengetahui bahwa sebetulnya Sinterklas bukanlah tokoh yang identik dengan salju. Lantas, mengapa Sinterklas selama ini diidentikkan dengan salju? Laman sains Smithsonian Magazine mencatat bahwa pada 1940 hingga 1950-an, di Alaska (Kutub Utara) terdapat toko mobil bekas yang sekaligus menjual barang-barang kebutuhan harian. Beberapa pengusaha dan pengembang juga membangun peradaban industri di sana.

Nah, awalnya pengusaha dan pengembang yang ada di sana memang salah perhitungan. Jarak yang jauh dan medan yang sulit dijangkau mengharuskan mereka membuka banyak pos yang tersebar di pelosok-pelosok wilayah Alaska. Maka, dibutuhkan kereta salju yang sanggup mengantarkan barang-barang dagangan dan surat di wilayah tersebut.

Mereka yang bekerja di perusahaan Alaska tersebut sering mengantarkan barang-barang sembari memopulerkan Sinterklas. Kepopuleran mereka akhirnya sampai ke kota dan diadaptasi sebagai Sinterklas modern di Amerika Serikat sejak 1950-an. Sedangkan di Eropa, Sinterklas yang indetik dengan salju sudah ada sejak zaman dulu, jauh sebelum munculnya tradisi Sinterklas di Amerika Serikat.

Bagaimana dengan pohon Natal? Ya, pohon Natal pun juga tidak harus identik dengan salju. Namun, di tempat asalnya, pohon-pohon cemara di Eropa memang kerap tertutup salju di saat musim dingin tiba. Sejak era 800 - 1200 Masehi, pohon cemara di Eropa sudah dijadikan hal yang wajib untuk dijadikan salah satu ornamen Natal yang kebetulan berlangsung saat musim dingin tiba.

5. Natal juga dirayakan di luar angkasa


Tentu saja Natal juga dirayakan oleh para astronaut yang merayakan Natal. Uniknya, mereka merayakan Natal di luar angkasa, tepatnya di Stasiun Internasional Luar Angkasa, dicatat dalam laman ABC News. Namun, tentu saja mereka tidak membawa pohon cemara dari Bumi. Mereka juga tidak mengajak "Sinterklas" yang selalu muncul di berbagai tempat pada 25 Desember.

Saat ini bahkan perayaan Natal juga bisa dimeriahkan dengan pohon Natal dan Sinterklas digital. Yup, dengan aplikasi dan progam digital, sudah banyak ucapan, gambar, video, dan segala hal yang berhubungan dengan Natal tanpa melibatkan pohon cemara dan Sinterklas secara fisik.

Poinnya bukanlah berfokus pada perayaan yang megah dan glamor, melainkan justru dengan kesederhanaan dan bagaimana pesan-pesan damai Natal bisa hadir dalam tiap-tiap individu. Bagi kamu yang merayakan Natal, semoga bisa memahami akan esensi dan nilai-nilai luhur dalam Natal itu sendiri, ya!

Itulah beberapa fakta sejarah mengenai pohon cemara dan Sinterklas yang dijadikan simbol atau ornamen dalam perayaan Natal. Semoga artikel ini dapat menambah wawasan kamu, ya!

0 komentar:

Posting Komentar

Related image